Masih ragu pakai popok kain modern??

iya sih memang, awalnya kelihatan berat banget. Kita harus mengeluarkan lagsung 60ribu untuk satu cloth diaper, beda dengan pospak 60ribu sudah dapat satu ball (40 biji) pospak. Tapi kalau kita lihat pengeluaran untuk bulan depannya kita masih harus membeli satu ball lagi pospak, sedangkan cloth diaper? enggak kan, jelas masih bisa di cuci buat besok, lusa, minggu depan, bahkan sampai punya adik bayi lagi.

Kalau sampah? untuk Anda yang sudah memakai cloth diaper, tentu sampahnya sangat berkurang bukan? tak seperti ketika Anda memakai pospak, si kecil menghabiskan paling tidak 5 pospak yang tertumpuk menggunung di tempat sampah dan bau lagi ketika kita telat satu hari saja membuang ke TPA. Hmmm.... satu hari saja sampah sudah segunung bila memakai pospak... bagaimana kalau sebulan..??? whats... di media massa juga telah dibahas loh pada tahun lalu tentang masalah ini... coba deh ku kutip lagi...

 KOMPAS.com - Disposable diapers (popok sekali pakai) atau pampers dianggap praktis bagi sebagian besar keluarga di kota besar. Kesibukan dan efisiensi waktu ukurannya. Jika kembali ke generasi kakek-nenek kita puluhan tahun lalu, popok kain satu-satunya pilihan untuk bayi. Saat itu rasanya tak ada yang mengeluh ketika harus mencuci kembali, menyetrika, kemudian memakaikannya lagi pada si kecil. Bisa jadi orangtua masa kini tidak direpotkan dengan adanya popok sekali buang.

Namun bayangkan betapa borosnya Anda jika bayi yang baru lahir saja harus diganti popoknya setiap 3-4 jam. Berapa banyak popok yang harus Anda beli sampai usianya sekitar 2 tahun? "Jika dihitung, dalam sehari anak bisa menggunakan lima popok habis pakai. Dalam sebulan pengeluaran untuk popok minimal Rp 500.000," papar Maria Cynthia kepada Kompas Female, ibu muda yang beralih kembali menggunakan popok kain. Pemborosan bukan satu-satunya alasan. Faktor kesehatan juga bisa menjadi pertimbangan.

Penelitian Universitas Kiel di Jerman menemukan bahwa penggunaan disposable diaper dapat meningkatkan temperatur daerah kelamin bayi laki-laki sebesar satu derajat celcius. Akibatnya, penggunaan popok yang terus-menerus memicu produksi sperma dan sel kanker testikular. Hal ini dikarenakan popok sekali buang mengandung bahan kimia seperti Dioxin (produk samping dari proses pemutihan kertas), Tributyl-tin (TBT) -sejenis polutan penyebab gangguan hormonal, dan Sodium polyacrylate -bahan penyerap penyebab toxic shock (syndrome).

 Lantas bagaimana dengan popok kain? Meski harus melewati proses pencucian dan pengeringan, popok kain lebih aman karena tidak mengandung bahan kimia. Untuk alasan kepraktisan pemakaian, popok kain impor memang masih menjadi pilihan kaum ibu. Bentuknya seperti popok disposable, hanya saja berbahan kain dan bukan kertas. Meski saat ini produk popok kain impor harganya masih tinggi, namun investasi sekali saat membeli produk masih lebih ekonomis ketimbang membeli popok disposable setiap bulan bukan?

source:http://female.kompas.com/read/2010/01/29/19133024/hemat.sehat.dengan.popok.kain