Share Clodi vs Pospak






Putra/putri Ayah/Bunda masih menggunakan popok?
Coba pakai Cloth Diaper yang ramah untuk bumi kita, juga sangat menjaga kantong kita, moms…






Lewat buku kecil ini, kita ingin sharing… happy reading moms… (saya ingin aktif membantu melestarikan bumi tempat hidup saya bersama keluarga dan Anda semua, artikel ini saya cetak seperti buku saku untuk saya berikan kepada orang-orang di sekitar saya, dengan semangat positif tanpa bermaksud mendiskriminasikan produk tertentu. Berdasar pengalaman saya sendiri yang tidak bisa menabung karena harus stok pospak tiap bulannya dan menyesal baru menemukan clodi dengan harga terjangkau buatan dalam negeri akhir tahun 2010. Semoga artikel ini membantu keluarga baru dan Anda semua....)



Clodi Vs. Pospak

Karena kecantol sama popok kain a.k.a Clodi (cloth-diaper), ujung-ujungnya malah jadi ngebandingin si clodi dengan pospak (popok sekali-pakai). Berbekal hasil survey harga pospak di supermarket & segunung info dari para mommies di forum internet, akhirnya dicobalah bikin ilustrasi itung-itungan.  Jadinya kira-kira seperti ini : (dengan asumsi si baby pakai pospak setiap hari)
Pospak (Popok Sekali Pakai/ disposable diapers) :
Perhitungan Biaya dan Pemakaian Pospak sampai anak lulus potty-training (0 bulan s.d 2,5 tahun)
Usia Bayi
Pemakain Popok Per hari
Pemakaian Popok Per bulan
Asumsi Harga pospak
Biaya Pembelian pospak
Newborn baby – 4 bulan
10-12 popok
12 x 30 hari = 360 popok
Rp.2000
(2000 x 360) x 4 bulan = Rp. 2.880.000
4 bulan – 2,5 tahun
5 – 8 popok
8 x 30 hari = 240 popok
Rp.2000
(2000 x 240) x 26 bulan = Rp. 12.480.000
Total Biaya Untuk pembelian Popok sampai usia 2,5tahun
Rp.15.360.000 (7680 popok)

Banyak juga yah cuma buat pospak……:(
Data di atas belum termasuk duit buat beli baby-wipes, disposal-system, disposable wetbags, serta krim ruam-popok loh moms…..:(

Nilai (+) :
·     Nggak perlu stress lihat tumpukan cucian.
·     Nggak perlu nyuci popok; tinggal lepas, siram pup-nya, trus buang pospaknya.

Nilai (-) : 
ü Ehmm… duit Rp 15 juta lebih habis untuk pospak saja, yang dipakainya relatif sebentar (apalagi kalo creeettt kena pup) trus dibuang. Iya sih, duit segitu banyak dibelanjakannya nggak sekaligus… tapi untuk belanja pospak, hukum yang berlaku adalah sedikit-sedikit lama-lama menjadi “bukit”.

ü Secara psikologis, si anak jadi keenakan & nggak “belajar-risih” kalau popoknya sudah basah karena ompol (karena di kulit bokong, permukaan pospak terasa kering-kering aja saat dipakai, meski udah dipipisin berkali-kali).

ü Di rumah pun harus disiapkan disposal-system (dan wetbags/kantong plastik untuk traveling) yang memadai, supaya bau popoknya nggak demek & menyebar kemana-mana (meski sebelumnya segala sisa-sisa pup sudah dibersihkan).
ü Oia, jangan lupakan pula kontribusinya dalam menambah gundukan sampah. Bayangkan kalau satu orang “memproduksi” 7000-an popok kotor dalam waktu 2,5-3 tahun… itu baru satu orang. Kalau 10 orang…?

Popok kain a.k.a CLODI (reusable cloth-diaper) :

Berdasar dari baca-baca pada beberapa forum & situs tentang perpopok-kainan, untuk lebih mudah dipelajari Bunda dan Ayah, kami ilustrasikan penggunaan dan pembelian cloth diapers (Clodi) dari usia 0 bulan (newborn baby) sampai usia 2.5 tahun. sampai anak lulus potty-training.


usia
@harga popok
butuh popok
total harga(Rp)
Keterangan
0 - 3 bulan
25000/lusin
3 lusin
75000
Flat diapers/ popok kain tali
Kalau pakai popok kain, sebaiknya didobel dengan diaper-cover.
newborn (cloth diapers size S)
35000
6
210000

berat > 3,5 Kg (size S)
60000
10
600000

usia > 4 bulan
60000 (size >M, sudah termasuk insert/ soaker)
4
240000
flat diapers masih dapat digunakan untuk kain penyerap ompol (insert/ soaker)
Total uang untuk pembelian popok n cloth diaper sampai usia 2,5 thn
1125000



Jadi, total uang yang dikeluarkan untuk beli semua clodi ini :  Rp 1.125.000. Oia, angka diatas belum termasuk beli baby-wipes, nappy-liners, serta nappies fasteners/ snappies/ kancing (penggantinya peniti bayi. Boleh juga sih pakai peniti… tapi takut aja si baby kecoblos  ;).
Ingat moms, Cloth diapers ini dapat di cuci berulang kali dan digunakan lagi untuk anak yang akan lahir berikutnya.
HEMAT y moms…

Ready Stock

Ayo diborong mom/dad/bro/sista
Cloth Diapers Ecokiddy & Legging Anak & Legging Dewasa & Pembalut Herbal Avail


Untuk Cloth Diapers Ecokidd, beli 3 potong Eco Snap/ Elastic Pants CUMA Rp 100ribu aja

 Tarif Ongkos kirim GRATIS untuk Kota Tulungagung,


Wilayah Non Tulungagung bisa pilih jasa pengiriman yang dikehendaki di menu sebelah kanan, Anda bisa cek langsung Ongkirnya loh...

ESL , POS , JNE

Happy Shopping ya...

Bahan Kimia Berbahaya dalam Disposal Diaper

Isu kenyamanan yang digencarkan oleh produsen diaper selalu berkisar pada masalah daya serap tinggi yang membuat kulit bayi tetap kering. Yah, tentu saja, Sodium Polyacrylate memang bisa bekerja sebagai super absorbent yang hebat, bahan yang berbentuk serbuk sebelum dicampurkan pada lapisan dalam disposable diaper memiliki daya serap lebih dari 100 kali dari beratnya di dalam air. Bahan kimia inilah yang mengubah cairan menjadi gel yang akan menempel di kulit bayi dan menimbulkan reaksi alergi. Disamping itu, bahan ini juga dicurigai sebagai biang keladi iritasi kulit dan demam. Ketika disuntikkan pada tikus percobaan menimbulkan hemorhage, kegagalan kardivaskuler, bahkan kematian. Anak-anak bisa terbunuh jika menelan 5 gram Sodium Polycrylate. Selain itu, bahan ini juga merusak daya tahan tubuh dan menurunkan berat badan para pekerja pabrik yang memproduksinya.

Bahan kimia lain yang terkenal tingkat bahayanya adalah dioxin. Dioxin dihasilkan dari proses produksi pemutih kertas. Sementara itu proses produksi disposable diaper menggunakan dioxin dalam bentuk gas klorin. Dalam artikel yang berjudul “Whitewash; Exposing the health and environmental dangers of woman’s sanitary product and dsposable diaper - what you can do about it”, Liz Amstrong dan Adrienne Scott menyatakan kebanyakan industri kertas melakukan proses pemutihan dengan menggunakan pulp whiter daripada klorin. Penyebabnya tak lain adalah bahan kimia yang termasuk dalam organoklorin (termasuk di dalamnya dioxin) ini sangat beracun dan bersifat persisten (menetap dalam tubuh).

Tributyl Tin (TBT) juga termasuk bahan yang digunakan dalam produksi disposable diaper. Bahan kimia ini selain menyebabkan pencemaran lingkungan juga sangat beracun. Penyebarannya bisa melalui kulit, jadi bisa dibayangkan tingkat bahayanya kalau kulit bayi yang sensitif memakai diaper yang mengandung TBT. Karena saking beracunnya bahan kimia ini dalam konsentrasi yang sangat kecil pun bisa mengakibatkan gangguan hormon disamping mengganggu sistem kekebalan tubuh. Tak tanggung-tanggung, orangtua yang memiliki bayi laki-laki perlu waspada karena bahan ini bisa menyebabkan kemandulan (pada bayi laki-laki). Ginny Caldwell dalam artikelnya yang berjudul Diapers. Disposable or Cotton?, menyatakan bahwa kerusakan dalam sistem saraf pusat, ginjal dan lever bisa disebabkan oleh bahan-bahan kimia berbahaya yang ditemukan dalam disposable diaper.

Pada tahun 1999 The Archive of Environtmental Health melaporkan sebuah studi yang dilakukan oleh Anderson Laboratories. Dalam studi tersebut mereka membuka kemasan diaper lalu meletakkannya di dekat tikus-tikus percobaan. Tikus-tikus yang terekspos diaper tersebut menderita bronchoconstriction yang menyerupai serangan asma Tak hanya itu, tikus-tikus tersebut juga mengalami iritasi mata, kulit dan tenggorokan. Di dalam sebuah ruangan yang luas sekalipun emisi dari disposable diaper cukup mampu membuat tikus-tikus ini terserang asma.

Menghemat Biaya Dengan Menggunakan Popok Kain

VIRGINIA BLANCO
The Epoch Times

Popok plastik sekali-pakai mahal nilainya, tidak hanya bagi bayi yang secara konstan terkontaminasi bahan kimia, tetapi juga bagi kami, para orang tua. Seorang bayi memakai popok antara 7,000 sampai 9,000 buah (10 popok sehari bagi bayi yang baru lahir dan 8 popok bagi balita yang baru belajar berjalan) pada 2,5 hingga 3,5 tahun pertama usia mereka [1] kecuali jika mereka diajarkan menggunakan pispot lebih awal.

Walaupun permintaan tinggi atas popok telah menyebabkan harganya kian murah, akan tetapi seseorang masih tetap membayar sekitar US $ 2,200 (setara 25,3 juta rupiah) untuk tiga tahun, ditambah US $ 380 (setara 4,370 juta rupiah) untuk babywipes (tisu basah untuk bayi). Jika Anda membeli popok yang ecofriendly atau “produk yang ramah lingkungan”, maka Anda harus mengeluarkan uang lebih banyak lagi.

Sebelum mengetahui segala hal mengenai popok kain, nampaknya popok kain menjadi semacam barang mewah yang mahal dan di luar jangkauan saya, namun sungguh mengejutkan ternyata dalam praktiknya menunjukkan hal yang sebaliknya. Secara jangka panjang, menggunakan popok kain lebih murah dibandingkan menggunakan popok plastik sekali-pakai sebab popok kain dapat digunakan berulang-ulang dibanding membuang popok plastik sekali-pakai ke sampah.

Modal awal saya sebesar US $ 800 (setara 9,2 juta rupiah, untuk harga pasaran di Amerika), walaupun ternyata banyak orang tua yang melaporkan pengeluaran yang lebih sedikit daripada saya. Tercakup dalam harga tersebut 5 lusin popok dengan berbagai style diaper cover (lebih dari cukup untuk digunakan selama empat hari berturut-turut tanpa mencuci) yang bervariasi, dan sabun untuk membilasnya.

Saat ini saya telah menggunakan popok kain pada putri saya selama tujuh bulan, dan dia masih menggunakan popok dengan ukuran yang sama semenjak lahir dan sampai saat ini masih menyisakan banyak ruang untuk tumbuh. Barangkali dalam satu tahun atau lebih, saya akan membeli sedikit popok lagi dengan ukuran yang lebih besar, namun dengan harapan pada saat itu putri saya mulai terbiasa memakai pispot, dengan begitu saya tidak perlu lagi membeli popok yang lebih besar.

Jika kita menyamakan biaya yang dikeluarkan untuk deterjen sehari-hari, jumlah air, dan peningkatan biaya listrik, atau menggunakan jasa layanan pencucian popok (diaper service), ongkos yang dikeluarkan oleh popok kain saat ini hampir mendekati ongkos-total yang dikeluarkan untuk popok plastik sekali-pakai 10 tahun yang lalu (saat masih mahal harganya).

Tidak diragukan lagi, penghematan yang paling nyata dapat dilihat pada keluarga yang memiliki beberapa anak sebab popok dapat dibagi dan disimpan untuk adik-adiknya. Sebagian orang bahkan menjual atau memperdagangkan popok kain lama mereka di internet—membuktikan bagaimana tahan-lamanya popok kain saat ini.

Membuat babywipes untuk bayi saya dari selimut flanel tua milik putri saya juga merupakan penghematan uang. Babywipes yang dijual di pasaran telah diberi pemutih dan mungkin mengandung sedikit parfum dan penyebab alergi lain, jadi membuat sendiri babywipes, akan memastikan Anda mengetahui persis bahan apa saja yang bersentuhan dengan kulit bayi Anda.

Flanel adalah bahan yang lembut dan tahan lama, namun bahan apapun yang lembut dan dapat menyerap air juga dapat digunakan untuk tujuan ini. Solusi babywipes bikinan-sendiri dapat di-download dari berbagai website dan blog internet bertema popok dan benar-benar dapat dibuat sendiri di rumah Anda. Formulanya pada umumnya kombinasi antara air suling, lidah buaya murni, sabun bayi, dan beberapa tetes minyak essential antibakteri seperti minyak kayu putih, lavender, atau minyak lembut lain untuk kulit bayi.

Adakan percobaan dengan beberapa bahan dan tentukan bahan mana yang terbaik untuk kulit bayi Anda. Untuk gagasan penghematan dan sharing popok kain lebih lanjut, silakan kunjungi Diaperpin.com.

Perawatan popok kain
Waktu yang dibutuhkan untuk merawat popok kain merupakan faktor penting di-saat memutuskan menggunakan popok kain untuk keluarga Anda. Popok kain tidak memerlukan produk perawatan-khusus. Baking soda dan cuka biasanya cukup untuk menjaganya agar tetap bersih dan segar. Walaupun Anda mungkin perlu menggunakan deterjen biodegradable dari waktu ke waktu, ini biasanya akan memerlukan biaya yang sama atau lebih sedikit dibanding harga deterjen yang biasa.

Mencuci popok nampaknya sulit dan memakan waktu, terutama bagi para orang tua yang memiliki pekerjaan full-time. Saya sendiri bekerja 35 jam seminggu. Menurut pandangan saya, saya lakukan ini sebab tidak ingin meninggalkan anak saya terbungkus dalam plastik dan kertas bersama dengan substansi yang berbahaya selama 24 jam sehari selama tiga tahun awal kehidupannya. Pemikiran ini benar-benar menyakitkan.

Rutinitas mencuci saya mengalir begitu saja. Setelah melepas popok dari bayi saya, seketika saya masukkan ke dalam tas binatu waterproof, simpan dengan kondisi tertutup, lantas saya menunggu tiga-empat hari atau sampai popok saya terkumpul banyak baru kemudian saya cuci. Saya mencuci popok tiga kali seminggu, pertama saya bilas dengan air dingin dan kemudian dengan air panas.

Saat mencuci, saya menambahkan satu tetes baking soda, setengah cangkir cuka, [2] dan beberapa jenis deterjen biodegradable, yang tidak meninggalkan residu pada popok. Saya menemukan satu merek di internet bernama Country Save, yang saya suka dan sangat terjangkau, namun ada merek lain yang belum saya coba seperti Charlie’S Soap dan Allen’S Naturally.

Saya biasanya menambahkan dua sendok deterjen biodegradable baik untuk bilasan pertama maupun bilasan kedua dan biarkan mesin cuci membersihkan sisanya. Tips mencuci lebih detail, silakan berkonsultasi di Diaperhyena.com.

Ketika popok masih baru, mereka akan mencapai titik absorbsi penuh setelah dua sampai empat kali pencucian. Setelah beberapa kali dicuci, mereka terasa ringan, lebih lembut, dan lebih menyerap. Adalah hal yang baik untuk membaca instruksi perawatan tentang setiap popok baru yang Anda beli, kecuali bila kain memerlukan perawatan khusus, seperti wol, semua popok saya cuci bersama-sama.

Residu deterjen atau sabun dalam popok jelas dapat mengurangi peresapan popok, wewangian dan pewarnaan mungkin akan berbahaya bagi kesehatan bayi Anda. Hal yang sama juga berlaku bagi deterjen alami, yang mungkin mengandung minyak dan meninggalkan residu lain. Gunakanlah deterjen biodegradable sebagai gantinya. [3]

Jangan pernah menggunakan pemutih atau pelembut kain untuk mencuci kain popok. Pemutih bersifat korosif dan akan menjarangkan tenunan kain, memendekkan umur popok. Pelembut kain membuat kaku dan menyebabkan popok menolak cairan. Pemutih non-khlor, seperti OxiClean, adalah bagus digunakan dari waktu ke waktu jika popok ternoda.

Untuk melembutkan popok, Anda dapat menambah-kan 1/2 cangkir cuka pada bilasan terakhir. Beberapa pihak juga merekomendasikan untuk mengeringkan popok di bawah sinar matahari, yang juga membantu untuk menyamarkan atau menghilangkan noda.

Waktu yang dibutuhkan untuk mengeringkan popok tergantung pada ketebalan kain. Fitted diaper (lapisan popok bagian dalam yang terbuat dari bahan suede atau microfleece) dan prefolds diaper (popok berbentuk lembaran yang cara penggunaanya dilipat) pada umumnya kering paling cepat sebab mereka tidak berlapis-lapis, walaupun pocket diaper (popok yang terdiri dari fitted diaper dan diaper cover sekaligus) dan insert diaper (bahan pengisi yang diselipkan pada popok kain, berbentuk seperti pembalut wanita) juga mudah kering. Diaper cover (popok penutup yang terbuat dari bahan tahan-air) kering paling cepat, maka biasanya saya menghentikan mesin pengering dan mengambil popok ini keluar terlebih dulu.

Merawat popok kain benar-benar lebih sederhana dari yang saya duga, tetapi bagi mereka yang berkeberatan untuk menambahkan tugas ini dalam kegiatan rutin mereka, suatu jasa layanan pencucian popok dapat melakukannya untuk Anda, kira-kira $ 32 (setara 368.000 ribu rupiah) seminggu. [4]

Joan McConnell mencatat, “Banyak orang tua tidak menyadari bahwa dengan jasa layanan pencucian popok tidak ada bilasan atau rendaman yang terlibat. Anda bahkan tidak perlu membilas kotoran padat—Anda hanya perlu memasukkan popok kotor langsung ke dalam ember popok yang dilapisi plastik. Sekali seminggu, Anda menaruh sekantong penuh kotoran, dan sekantong penuh popok yang segar dan bersih dikirimkan ke pintu Anda.” [1]

Angelique Mullen mendiskusikan proses dan kenyamanan jasa layanan pencucian popok dalam artikelnya, “Diaper Services: A convenient option.” “Pencucian dan sanitasi dicek oleh NADS (the National Association of Diaper Services) secara rutin. … jasa layanan pencucian popok anggota dari NADS mengikuti proses pencucian standar tinggi yang ditetapkan oleh NADS. Standard ini meliputi cek bakteri acak, prosedur pencucian yang sangat teliti, dan pengering dengan temperatur tinggi, … menjadikan popok lebih bersih dibanding pencucian yang dilakukan di rumah.” [5]

Popok yang telah dicuci kira-kira 13 kali dan tetap jauh lebih bersih dibanding ketika melakukannya sendiri. Dia menyebut jasa layanan pencucian popok ini dengan “bersinar bagai permata,” tetapi intinya menunjukkan kemunduran negara berkaitan dengan peningkatan permintaan atas popok plastik sekali-pakai.

Saatnya Beralih Ke Popok Kain / Cloth Diaper (2)

Epochtimes.co.id)

Setelah menggunakan popok kain selama musim panas, iritasi anak perempuan saya sangat jauh berkurang, walaupun belum sepenuhnya menghilang. Dokter spesialis anak saya menjelaskan bahwa anak saya mengidap contact dermatitis, yakni suatu kondisi di mana kulit teriritasi oleh material apa pun dengan kontak yang lama dan berkepanjangan. Ruamnya mereda sejalan dengan kelancaran sirkulasi pada popok kain. Yang paling penting, saya bahagia mengetahui bahwa saya tidak lagi membuatnya bersentuhan dengan bahan-kimia berbahaya dari popok plastik sekali-pakai selama 24 jam sehari.

Sayang sekali, ada beberapa pihak yang menganggap popok kain sebagai fenomena dari dunia yang belum berkembang, disamping permasalahan serius bahan-kimia beracun yang terkandung di dalam popok plastik sekali-pakai. Hal ini mengherankan saya, “Bagaimana bisa, kita menjadi begitu tergantung padanya sejak dari awal?”

Efek dari promosi pemasaran agresif yang digerakkan oleh masyarakat moderen yang berbasis kehidupan serba-cepat membuat penjualan popok melampaui penjualan game.

Jia Lynn Yang dari CNNMoney.com melaporkan dalam artikelnya Designing the iPhone of Diapers, bahwa Kimberly-Clark, pembuat merek Huggies, telah menjual 4,2 milyar dollar AS hanya untuk popok plastik sekali-pakai selama 2007. [1]

Proctor and Gamble (P&G) melaporkan pada 2005, produk penjualan terbesar mereka, Pampers, mencapai 6 milyar dollar AS. [2]

Konsultan bisnis Maggie Gainer mengingat kembali pengalamannya bersama industri popok plastik ketika dia mempromosikan popok kain di awal tahun 90-an. “Mereka sedang memperkenalkan popok plastik sekali-pakai pada orang tua baru dengan memberikan sampel gratis ketika melahirkan dan memproduksi iklan tv komersial yang lembut dan menyentuh perasaan tentang pemakaian popok plastik pada bayi Anda dan bagaimana popok kertas sekali-pakai merupakan pilihan yang ‘bersahabat’ dengan lingkungan untuk masa depan bayi Anda.” [3]

Meskipun popok sekali-pakai yang bertajuk green washing telah dijatuhi sanksi di masa lalu [4], mereka tetap melakukannya hingga saat ini, secara lebih global. Baru-baru ini, P&G mengumumkan situs Pampers baru di mana para orang tua dapat “menemukan informasi tentang Pampers yang didukung oleh para donatur seluruh dunia dan bagaimana Pampers sedang berkontribusi untuk mendukung kesehatan lingkungan.” [5]

Menariknya, saya menemukan laporan-laporan yang bagus atau dengan jumlah yang berlimpah, namun laporan tersebut tidak seimbang dan sering kali melewatkan isu yang sangat penting mengenai bahan-kimia beracun yang terkandung dalam popok sekali-pakai produk mereka sebagai perbandingan, yang secara jelas menyimpulkan bahwa tak ada satu sistem popok pun yang lebih baik daripada yang lain. [6]

Popok kain menawarkan keuntungan yang sangat nyata bagi anak-anak kita. Sayang sekali, nampaknya kehidupan yang serba-cepat di dunia yang serba-cepat ini telah membawa kita lebih berkompromi terhadap kualitas hidup dengan membuat kita tergantung penuh pada ‘kenyamanan’ terlepas dari potensi yang merugikan bagi anak-anak kita.

Saya dapat memahami bila kenyamanan akan popok sekali-pakai seperti mimpi yang menjadi kenyataan bagi para orang tua yang sibuk. Di sisi lain, mengingat mesin cuci dan pengering telah digunakan secara meluas saat ini, sulit bagi saya untuk mencari alasan mengapa saya tidak mampu mencuci pakaian dalam bayi saya dengan cara yang sama saya mencuci pakaiannya.

Mengetahui bahwa popok anak perempuan saya tidak akan mencemari pembuangan sampah di bumi ini memang memuaskan, namun mengetahui bahwa dia sedikit lebih terlindungi dari zat pencemar yang tak perlu-sungguh membuat pemakaian popok kain menjadi tidak ternilai harganya. (Virginia Blanco/The Epoch Times/feb)


Bagikan artikel ini kepada teman dan keluarga anda dengan menekan TOMBOL Share Facebook di samping ini