Epochtimes.co.id)
Setelah menggunakan popok kain selama musim panas, iritasi anak perempuan saya sangat jauh berkurang, walaupun belum sepenuhnya menghilang. Dokter spesialis anak saya menjelaskan bahwa anak saya mengidap contact dermatitis, yakni suatu kondisi di mana kulit teriritasi oleh material apa pun dengan kontak yang lama dan berkepanjangan. Ruamnya mereda sejalan dengan kelancaran sirkulasi pada popok kain. Yang paling penting, saya bahagia mengetahui bahwa saya tidak lagi membuatnya bersentuhan dengan bahan-kimia berbahaya dari popok plastik sekali-pakai selama 24 jam sehari.
Sayang sekali, ada beberapa pihak yang menganggap popok kain sebagai fenomena dari dunia yang belum berkembang, disamping permasalahan serius bahan-kimia beracun yang terkandung di dalam popok plastik sekali-pakai. Hal ini mengherankan saya, “Bagaimana bisa, kita menjadi begitu tergantung padanya sejak dari awal?”
Efek dari promosi pemasaran agresif yang digerakkan oleh masyarakat moderen yang berbasis kehidupan serba-cepat membuat penjualan popok melampaui penjualan game.
Jia Lynn Yang dari CNNMoney.com melaporkan dalam artikelnya Designing the iPhone of Diapers, bahwa Kimberly-Clark, pembuat merek Huggies, telah menjual 4,2 milyar dollar AS hanya untuk popok plastik sekali-pakai selama 2007. [1]
Proctor and Gamble (P&G) melaporkan pada 2005, produk penjualan terbesar mereka, Pampers, mencapai 6 milyar dollar AS. [2]
Konsultan bisnis Maggie Gainer mengingat kembali pengalamannya bersama industri popok plastik ketika dia mempromosikan popok kain di awal tahun 90-an. “Mereka sedang memperkenalkan popok plastik sekali-pakai pada orang tua baru dengan memberikan sampel gratis ketika melahirkan dan memproduksi iklan tv komersial yang lembut dan menyentuh perasaan tentang pemakaian popok plastik pada bayi Anda dan bagaimana popok kertas sekali-pakai merupakan pilihan yang ‘bersahabat’ dengan lingkungan untuk masa depan bayi Anda.” [3]
Meskipun popok sekali-pakai yang bertajuk green washing telah dijatuhi sanksi di masa lalu [4], mereka tetap melakukannya hingga saat ini, secara lebih global. Baru-baru ini, P&G mengumumkan situs Pampers baru di mana para orang tua dapat “menemukan informasi tentang Pampers yang didukung oleh para donatur seluruh dunia dan bagaimana Pampers sedang berkontribusi untuk mendukung kesehatan lingkungan.” [5]
Menariknya, saya menemukan laporan-laporan yang bagus atau dengan jumlah yang berlimpah, namun laporan tersebut tidak seimbang dan sering kali melewatkan isu yang sangat penting mengenai bahan-kimia beracun yang terkandung dalam popok sekali-pakai produk mereka sebagai perbandingan, yang secara jelas menyimpulkan bahwa tak ada satu sistem popok pun yang lebih baik daripada yang lain. [6]
Popok kain menawarkan keuntungan yang sangat nyata bagi anak-anak kita. Sayang sekali, nampaknya kehidupan yang serba-cepat di dunia yang serba-cepat ini telah membawa kita lebih berkompromi terhadap kualitas hidup dengan membuat kita tergantung penuh pada ‘kenyamanan’ terlepas dari potensi yang merugikan bagi anak-anak kita.
Saya dapat memahami bila kenyamanan akan popok sekali-pakai seperti mimpi yang menjadi kenyataan bagi para orang tua yang sibuk. Di sisi lain, mengingat mesin cuci dan pengering telah digunakan secara meluas saat ini, sulit bagi saya untuk mencari alasan mengapa saya tidak mampu mencuci pakaian dalam bayi saya dengan cara yang sama saya mencuci pakaiannya.
Mengetahui bahwa popok anak perempuan saya tidak akan mencemari pembuangan sampah di bumi ini memang memuaskan, namun mengetahui bahwa dia sedikit lebih terlindungi dari zat pencemar yang tak perlu-sungguh membuat pemakaian popok kain menjadi tidak ternilai harganya. (Virginia Blanco/The Epoch Times/feb)
Bagikan artikel ini kepada teman dan keluarga anda dengan menekan TOMBOL Share Facebook di samping ini
No comments:
Post a Comment
Terima kasih untuk komentar Anda, bila membutuhkan jawaban akan kami respon sesega mungkin ^_^. Happy Shopping